PERAK 2026: Dari “Good” Menuju “Great”, Keluarga Menyambut Ramadhan dengan Cara Berbeda
- account_circle Agus Subekti
- calendar_month Sen, 19 Jan 2026
- comment 0 komentar

Ungaran | EksposJateng.com – Di tengah sejuknya alam Polobogo, Kabupaten Semarang, puluhan keluarga dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul dalam satu tujuan: mempersiapkan Ramadhan dengan lebih sadar, hangat, dan bermakna. Selama tiga hari, 16–18 Januari 2026, Camping Ground Boemisora menjadi saksi berlangsungnya PERAK 2026 (Perindu Ramadhan Keluarga), sebuah ruang temu keluarga lintas kota dan lintas generasi.
Sebanyak 15 keluarga dengan total 65 peserta terdiri dari ayah, ibu, remaja, hingga anak-anak—mengikuti kegiatan bertema “Good to Great: Mempersiapkan Keluarga Menyambut Ramadhan dengan Lebih Bermakna.” Tema ini menegaskan pesan utama yang terus digaungkan sepanjang acara: “Good is the enemy of Great.”
Dari Keluarga ke Komunitas
Peserta datang dari Jakarta, Bekasi, Lampung, Gresik, Semarang, Salatiga, Solo, hingga Boyolali. Pembukaan PERAK 2026 digelar pada Jumat (16/1/2026) pukul 14.00 WIB di arena panorama dengan latar Gunung Telomoyo dan Rawa Pening yang membentang megah.
Pembina komunitas PERAK, Dodik Mariyanto, menegaskan bahwa PERAK bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang bertumbuh bersama.
“Ketika seluruh keluarga hadir di PERAK sebagai satu keluarga, maka saat pulang nanti mereka membawa pulang satu keluarga besar,” ungkapnya.
Kegiatan berlanjut dengan diskusi “Dari Keluarga ke Komunitas” yang dipandu Septi Peni Wulandani, membedah peran keluarga sebagai fondasi ekosistem sosial yang saling menguatkan.
Good to Great, untuk Semua Usia
Hari kedua menjadi inti proses pembelajaran. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok: dewasa, remaja, dan anak-anak. Meski mengusung tema yang sama—Good to Great—pendekatan disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan masing-masing.
Kelompok dewasa dipandu Dodik Mariyanto, kelompok remaja oleh Kak Windi dari tim Arunika, sementara kelompok anak-anak dipandu Kak Jo dan Kak Lina dari tim Lebah Putih. Pesan yang ditekankan satu: Ramadhan bukan rutinitas ibadah semata, melainkan ruang latihan karakter dalam kehidupan keluarga.
Uniknya, sesi Child-Led Exploration justru menempatkan anak sebagai pemimpin proses belajar. Orang tua diajak menyimak, mengikuti, dan mempercayai anak sebagai subjek pembelajaran.
Dari Board Game hingga Ramadhan di Inggris
Sesi Class for Friends menjadi salah satu sorotan. Sembilan peserta lintas usia berbagi pengalaman dan keahlian—mulai dari pembuatan board game keluarga, terapi pemaafan, public speaking anak, produksi lilin, hingga kisah menjalani Ramadhan di Inggris saat musim panas. Semua peserta berdiri setara sebagai pembelajar sekaligus pengajar.
Malam hari ditutup dengan BBQ ala Masterchef Keluarga. Empat kelompok keluarga merancang menu, menunjuk chef utama, dan bekerja sama menyajikan hidangan. Makan malam berubah menjadi proyek kolaborasi penuh tawa, berlanjut dengan sesi api unggun yang sarat refleksi.
Dipimpin Remaja, Belajar dari Alam
Hari terakhir, remaja mengambil alih peran utama lewat Teens-Led Exploration. Mereka menyusun proyek, membagi peran sebagai project leader dan support system, serta memimpin seluruh peserta menjelajah alam sekitar. Udara pagi Polobogo dan panorama alam menjadi ruang belajar yang tak tergantikan.
Suara Peserta
Beragam testimoni mengalir dalam sesi penutupan. Apri Kurniasih, peserta asal Lampung, mengaku menemukan sisi baru dari anaknya.
“Saya kaget melihat anak saya menjadi jauh lebih percaya diri di sini,, saya baru pertama kali melihat anak saya tampil menyanyi,” tuturnya.
Sementara Handi Suseno dari Gresik menyoroti suasana ramah keluarga yang tercipta.
“PERAK ini keren. Bekal makanan dari rumah saya utuh karena di sini kami dilayani dengan baik. Full makanan, Anak saya sampai lupa gadget.”
Peserta lain, Azis dari Semarang, menilai PERAK sebagai ruang tumbuh bersama.
“Perak adalah media tumbuh yang sehat bagi semua anak lintas usia, mereka menjadi memahami diri dan tentunya kami lebih memperhatikan untuk mempersiapkan Ramadhan.”
Anak-anak pun kompak ingin kembali. Yang semula canggung di hari pertama, justru enggan berpisah di hari ketiga.
Tradisi tebar hadiah dari keluarga untuk keluarga menjadi penutup penuh makna—dari kerajinan kawat berbulu hingga paket aktivitas Ramadhan untuk anak.
PERAK 2026 kembali menegaskan satu hal: keluarga adalah ruang belajar pertama dan utama. Sampai jumpa di PERAK 2027.
- Penulis: Agus Subekti

Saat ini belum ada komentar