Platform SPARTAVBUD Digagas, Pelaku Budaya Semarang Bidik Pasar Digital
- account_circle Haris
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Semarang | EksposJateng.com – Transformasi digital mulai menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku seni dan budaya di daerah. Di Kota Semarang, langkah itu mulai diarahkan melalui pengembangan platform khusus bernama SPARTAVBUD (Smart Platform for Art and Cultural Digital Marketing).
Gagasan ini mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Yayasan Dewi Sartika melalui program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI di IBC Center, Jumat (10/4/2026).
Forum yang mengangkat tema pendalaman digitalisasi promosi budaya itu menyoroti masih terbatasnya akses pelaku seni terhadap platform pemasaran yang sesuai dengan karakter produk budaya.
Ketua panitia FGD, Yanuar Aris Budiarto, mengatakan kekayaan budaya Semarang sejatinya memiliki nilai jual tinggi. Namun, belum seluruhnya mampu menjangkau pasar yang lebih luas, terutama di ranah digital.
Menurut dia, platform umum belum sepenuhnya mampu merepresentasikan produk budaya yang sarat nilai, cerita, dan konteks sosial.
“Dibutuhkan ruang khusus yang bisa mengangkat keunikan produk budaya sekaligus memperluas akses pasarnya,” ujar Yanuar.
SPARTAVBUD pun dirancang sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga narasi dan identitas budaya.
Seniman Salafi Handoyo menilai kehadiran platform ini dapat membantu menyeimbangkan aspek produksi dan pemasaran yang selama ini timpang.
“Banyak seniman fokus berkarya, tetapi belum memiliki strategi pemasaran yang kuat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kurasi dalam platform tersebut untuk menjaga kualitas karya yang ditampilkan.
Di sisi lain, praktisi budaya Akhyar M Permana melihat tantangan utama terletak pada adaptasi teknologi. Meski memiliki jaringan komunitas yang solid, pelaku seni dinilai masih perlu penguatan dalam pemanfaatan digital.
“Platform ini bisa menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kapasitas digital mereka,” ujarnya.
Selain itu, SPARTAVBUD diharapkan mampu berfungsi sebagai ruang edukasi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal di tengah arus globalisasi.
Pengamat budaya Junaidi Abdul Munif menilai inisiatif ini sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam pemajuan kebudayaan.
Ia berharap pengembangan platform tersebut dapat berkelanjutan dan menjadi model integrasi antara budaya dan teknologi.
“Digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi peluang untuk memperluas eksistensi budaya ke level yang lebih tinggi,” kata Junaidi. (*)
- Penulis: Haris

Saat ini belum ada komentar