Jamasan Pusaka di Salatiga, Tradisi Merawat Sejarah dengan Air dari Tujuh Mata Air
- account_circle Indra W
- calendar_month Jum, 3 Jul 2026
- comment 0 komentar

SALATIGA, EksposJateng.com – Di tengah arus modernisasi, tradisi Jamasan Pusaka masih bertahan di Kota Salatiga. Ratusan warga memadati halaman Museum Salatiga, Rabu (2/7/2026), untuk menyaksikan ritual penyucian benda-benda pusaka yang menjadi bagian dari warisan budaya leluhur.
Prosesi digelar di depan Prasasti Batu Tulis Plumpungan, salah satu cagar budaya penting di Salatiga. Kirab bregada membuka rangkaian acara sebelum dilanjutkan dengan seremoni, doa bersama, dan kirab pusaka menuju lokasi penjamasan.
Puluhan pusaka milik anggota Komunitas SAKRAL kemudian dijamas oleh Ki Bayu dan Ki Siswanto menggunakan Air Perwitasari. Air tersebut berasal dari tujuh sumber mata air yang berbeda di wilayah Salatiga, sebuah simbol yang mencerminkan harapan akan keberlanjutan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Di tengah prosesi, anggota DPRD Kota Salatiga Hartoko turut menuangkan air jamasan ke salah satu tombak pusaka. Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar ritual adat, melainkan cara masyarakat menjaga hubungan dengan sejarah.
“Ini adalah budaya leluhur yang harus kita perhatikan dan kita pertahankan. Jamasan bukan hanya ritual, tapi juga cara kita menjaga sejarah agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Hartoko.
Bagi masyarakat Jawa, jamasan memiliki makna lebih dari membersihkan benda pusaka secara fisik. Tradisi ini juga dimaknai sebagai upaya merawat nilai, menghormati perjalanan sejarah, serta mengingat jasa para pendahulu yang menjadi bagian dari identitas suatu daerah.
Antusiasme warga yang memenuhi area museum menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki ruang di hati masyarakat. Di tengah perubahan zaman, Jamasan Pusaka menjadi pengingat bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup jika terus dikenalkan, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
- Penulis: Indra W
- Editor: Agus Subekti

Saat ini belum ada komentar